Strategi Merumuskan Cita-cita
Mungkin kita sudah sering sekali mendengar ungkapan-ungkapan di atas. Kita pun percaya bahwa keinginan (wish), cita-cita, dan visi bisa merupakan senjata dahsyat untuk mencapai sukses. Masalahnya: apakah kita sudah punya cita-cita? Atau, apakah cita-cita yang telah kita rumuskan sudah memiliki kekuatan dahsyat untuk membantu kita meraih sukses? Jika jawabannya belum, silahkan simak yang berikut ini. Mudah-mudahan Anda pun bisa merumuskan cita-cita yang dahsyat dan dapat menikmati manfaatnya.
”…May your wish come true.”
”…Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit.”
”…Dicari: Pemimpin yang mempunyai visi.”
CITA-CITA YANG DAHSYAT
Kemerdekaan Indonesia, yang beberapa hari lalu baru saja kita rayakan, pada awalnya merupakan cita-cita yang ”diimpikan” oleh para pemimpin bangsa. Kemudian cita-cita ini ditularkan kepada seluruh lapisan masyarakat, sehingga bangsa Indonesia jpada waktu itu meyakini bahwa suatu saat kemerdekaan pasti dapat diraih. Akibatnya, para pemimpin bangsa dan seluruh rakyat Indonesia bergerak bersama untuk menyusun rencana, memilih strategi, dan melakukan tindakan untuk meraih kemerdekaan yang telah dicita-citakan. Hasilnya? Cita-cita menjadi bangsa yang merdeka pun berhasil diwujudkan. Cita-cita seperti ini sangatlah dahsyat, bukan sekedar simbol belaka. Agar cita-cita kita benar-benar hidup dan memiliki kekuatan luar biasa, kita terlebih dahulu perlu mengetahui ciri-cirinya.
”Desirable” (sangat diinginkan). Cita-cita yang dahsyat merupakan keinginan yang datang dari lubuk hati terdalam. Keinginan ini harus ”merasuk” jiwa kita, sehingga membuat kita mampu mengatasi rasa takut. Cita-cita seperti ini juga harus menyebar ke seluruh ”persendian” kita sehingga dapat menggerakkan kita dan membuat kita tidak bisa berhenti berusaha sebelum cita-cita tersebut tercapai. Karena cita-cita ini begitu diinginkan, ketika cita-cita ini tercapai, kita bisa menitikkan air mata kemenangan.
Helen Keller yang bisu, buta, dan tuli bersama pelatihnya yang setia Ann Sullivan, memiliki keinginan yang begitu dalam bagi Helen untuk bisa meraih prestasi gemilang. Akhirnya, keinginan yang dalam ini terkabulkan: Helen menjadi penulis dan akademisi yang dihormati, dan pembicara yang mampu memberi inspirasi bagi orang lain (baik yang memiliki kendala seperti Helen ataupun orang kebanyakan lainnya) untuk meraih yang terbaik dalam hidup mereka. Bayangkan apa yang terjadi jika Helen tidak memiliki keinginan yang kuat untuk bangkit dari dunianya yang sunyi. Pasti dunia tidak akan mengenal Helen Keller, dan mungkin Helen pun tidak bisa menikmati hidup dan membagikan kenikmatan hidup ini pada orang lain.
”Believable” (sangat diyakini). Cita-cita yang dahsyat harus diyakini oleh sang pemimpin dan jajarannya bahwa cita-cita tersebut dapat tercapai. Cita-cita bisa saja pada awalnya terlihat tidak mudah, namun sangat dipercaya bisa dicapai. Hal ini sesuai dengan yang dikatakan Ralph Waldo Emerson: ”Semua kesuksesan besar pada awalnya ”terlihat” tidak mungkin.”
Siapa yang bisa menyangka jika Indonesia yang dianggap masih terbelakang dalam ilmu pengetahuan mampu bediri sejajar dengan bangsa lain di bidang yang disegani ini. Bapak Johannes Surya, PhD dengan putra-putri terbaik bangsa Indonesia yang tergabung dalam Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) berhasil membuktikan pada dunia bahwa Indonesia bukanlah bangsa kacangan. Tim ini mampu meraih berbagai medali kemenangan di forum tanding ilmu pengetahuan tingkat dunia. Bisa saja orang mencibirkan bibir ketika mendengar ”keinginan” ini. Namun, Pak Johannes dan timnya begitu meyakini cita-cita mereka, sehingga mereka berlatih kuat dan berusaha maksimal sehingga berhasil mewujudkan mimpi mereka dengan gemilang.
”Transferrable” (bisa ditularkan). Menurut Zig Ziglar, kita bisa mendapatkan apa pun yang kita inginkan asal kita bisa membantu cukup banyak orang untuk mencapai apa yang mereka inginkan. Pelajaran yang bisa disarikan dari pernyataan ini adalah, kita perlu saling mendukung dalam mencapai cita-cita kita. Jeffrey A Krames dalam bukunya ”The Welch Way” mengutip pernyataan Jack Welch, pemimpin legendaris perusahaan raksasa dunia General Electrics yang mengatakan, ”Pemimpin yang terbaik adalah mereka yang datang dengan ide baru, dan mengartikulasikan sebuah visi yang memberi inspirasi kepada orang lain untuk bertindak. Artinya, seorang pemimpin harus mampu mengartikulasikan cita-citanya dengan sederhana dan mudah dimengerti sehingga orang lain mampu memahami dan terinspirasi untuk bertindak mewujudkannya.
Apa yang terjadi jika Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo dan para pemimpin bangsa lainnya berusaha berjuang sendiri tanpa bantuan rakyat untuk meraih Indonesia merdeka? Dengan keterbatasan mereka sebagai manusia, mungkin sekarang kita belum merdeka. Tapi tidak demikian dengan para pemimpin bangsa kita tersebut, mereka berhasil ”menularkan” cita-cita mereka mengenai Indonesia Merdeka kepada seluruh rakyat. Cita-cita seperti ini dengan mudah disebar-luaskan karena dirumuskan dengan sederhana, singkat, dan mudah dimengerti ini.
Demikian juga dengan Jendral Sudirman yang mampu menyebarkan cita-citanya kepada pasukan yang dipimpinnya dan rakyat yang ditemuinya untuk saling mendukung dalam mengalahkan musuh bangsa. Kemenganpun berhasil diraih berkat kerja sama kompak dari sang jendral, pasukan dan rakyat Indonesia.
MERUMUSKAN CITA-CITA
Bung Karno sebagai pemimpin bangsa memiliki cita-cita mencapai Indonesia Merdeka. J.F Kennedy memiliki cita-cita agar bangsa Amerika dapat menyaingi Rusia dengan mendaratkan pesawat ruang angkasa ke bulan. Nelson Mandela, bercita-cita menghapuskan diskriminasi bagi bangsa kulit hitam. Mahatma Gandhi memiliki cita-cita mencapai kemerdekaan tanpa kekerasan. Bagaimana dengan cita-cita kita?
Zig Ziglar dalam bukunya Langkan-Langkah Menuju Puncak menuliskan tentang Aubrey Shultz, seorang pemain sepak bola Amerika. Ketika memasuki kantor pelatihnya, Grant Teaff di University of Baylor, Shultz menyampaikan tiga tujuan: (1) menjadi pemain tengah All-southwest Conference, (2) menjadi pemain All-American, dan (3) membawa tim Baylor (yang dilatih Teaff) memenangkan kejuaraan Football Southwest Conference. Masing-masing dari ketiga tujuan ini memiliki kendala: (1) Shultz saat ini adalah pemain belakang—bukan pemain tengah, (2) Kesempatan Shultz terpilih menjadi Pemain All-American tipis, karena ia bukan pemain nomor satu—tetapi pemain kelas dua, (3) Tim Baylor selama 50 tahun belum pernah memenangkan kejuaran Football Southwest Conference.
Dengan kerja keras, komitmen tinggi, semangat baja, dan dukungan pelatih serta orang-orang sekitarnya, Shultz akhirnya berhasil meraih ketiga tujuannya tersebut. Bagaimana merumuskan tujuan yang sedahsyat tujuan Shultz? Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan untuk merumuskan tujuan.
Rumuskan cita-cita yang melampaui keinginan sesaat saja, dengan rentang waktu yang jauh ke depan. Kita bisa merumuskan cita-cita setinggi langit, namun tetap memperhatikan realita, agar tidak menjadi pungguk yang merindukan bulan. Cita-cita berfungsi seperti kompas yang memberi petunjuk bagi sebuah kapal ke arah mana harus melaju. Kompas ini tidak akan ada artinya tanpa memperhatikan peta geografis di sekitar tempat kapal tersebut berada.
Demikian juga dalam merumuskan cita-cita, kita harus memperhatikan situasi dan kondisi kita, waktu, tempat, dan orang-orang di sekitar kita, serta kesempatan-kesempatan emas yang mungkin tersembunyi di balik yang sekarang terlihat. Kalimat berikut bisa membantu kita untuk mencari keinginan kita yang terdalam: Saya akan menitikkan air mata kemenangan jika saya mampu melakukan hal ini.
Identifikasikan dukungan yang mungkin kita dapatkan untuk mencapai cita-cita tersebut. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan mencoba menjawab pertanyaan berikut: Apa yang saya perlukan untuk mencapai cita-cita saya? Apa yang sudah saya miliki yang dapat saya gunakan sebagai modal meraih cita-cita? Siapa yang harus saya hubungi untuk mendukung saya mencapai apa yang saya inginkan? Strategi apa yang perlu saya kembangkan untuk mencapai cita-cita tersebut. Ketiga pertanyaan ini bisa dirumuskan dengan menyelesaikan satu pernyataan berikut: Saya bisa mencapai tujuan saya dengan …. (pendidikan, fasilitas, keterampilan?)
Langkah selanjutnya adalah mengidentifikasikan kendala yang mungkin menghadang. Strategi ini dapat membantu kita mempersiapkan diri menghadapi masalah yang mungkin muncul. Barbara Sher dalam bukunya Wishcraft: How to Get What You Really Want mengusulkan para pembaca untuk menyelesaikan kalimat berikut: Saya tidak bisa mencapai tujuan saya karena ….. (tidak punya dana, kepercayaan, keahlian?).
Berikutnya adalah menyusun rencana aksi untuk mencapai cita-cita tersebut. Rencana aksi ini bisa disusun berdasarkan jawaban kedua pertanyaan di atas mengenai dukungan dan kendala, yaitu: Untuk mendapat dukungan yang saya perlukan, saya harus melakukan hal-hal berikut, untuk mengatasi kendala yang mungkin menghadang, saya harus melakukan hal-hal berikut. Rencana ini tentunya perlu disusun berdasarkan prioritas.
Apa pun cita-cita yang ingin kita raih, pastikan agar cita-cita tersebut datang dari lubuk hati (desirable), kita yakini dapat tercapai, walaupun harus menghadapi berbagai kendala (believable), dan dapat kita bagikan pada orang-orang yang tepat untuk memberi dukungannya pada kita (transferrable).
Jangan lupa merumuskannya dengan sederhana dan mudah dimengerti oleh kita dan orang-orang yang akan mendukung kita, dengan mengidentifikasikan dukungan, kendala, dan menyusun rencana aksi yang strategis guna meraih sukses. Selamat mencoba

15.58
Adam A
Posted in 
No Response to "Strategi Merumuskan Cita-cita"
Posting Komentar